Belakangan ini di banyak perusahaan marak digaungkan tentang transformational leadership. Meski bukan sesuatu yang baru, namun banyak perusahaan mulai menerapkannya.
Sebenarnya apa itu transformational leadership?
Konsep transformational leadership pertama kali diperkenalkan oleh James V. Downton (1973) dan dipopulerkan oleh James MacGregor Burns (1978) dalam bukunya Leadership.
Burns membedakan dua gaya kepemimpinan: transactional leadership yang berbasis pada pertukaran imbalan dan hukuman, dan transformational leadership berbasis pada visi, inspirasi, dan perubahan positif.
Selanjutnya, Bernard M. Bass (1985) mengembangkan model ini lebih jauh dengan menekankan empat pilar utamanya :
- Idealized Influence – peran dan kehadiran pemimpin di tengah timnya sebagai teladan dan role-model.
- Inspirational Motivation – kehadiran pemimpin bukan sekadar memberi perintah saja, namun menginspirasi dengan visi yang jelas.
- Intellectual Stimulation – dengan pengetahuan dan kemampuannya, seorang pemimpin mampu mendorong (memberi motivasi) dalam melakukan inovasi dan berpikir kritis.
- Individualized Consideration – bukan fokus pada kepentingan dirinya, seorang pemimpin harus memperhatikan kebutuhan pengembangan bawahannya dan timnya.
Di era Revolusi Industri 4.0—yang ditandai dengan digitalisasi, otomatisasi, kecerdasan buatan (AI), dan big data—konsep kepemimpinan ini kembali menjadi sorotan karena relevansinya dengan kebutuhan organisasi yang adaptif, agile, dan inovatif.
Sebagai informasi penting untuk perusahaan maupun organisasi Anda yang ingin training leadership transformational atau leadership development program dapat menghubungi kami di 0822-9827-9887.

5 keunggulan Transformational Leadership di era 4.0 adalah :
- Mendorong Inovasi dan Kreativitas
Tidak sedikit karyawan yang memiliki ide brilian yang dapat diimplementasikan untuk kemajuan perusahaan. Oleh karena itu, karyawan harus diberi ruang untuk berpikir berbeda, berpendapat, bereksperimen, dan menemukan solusi baru. - Meningkatkan Engagement dan Loyalitas Karyawan
Karyawan membutuhkan apresiasi dan merasa nyaman. Dengan kata lain, karyawan juga harus dipandang sebagai manusia yang memberi kontribusi luar biasa bagi perusahaan. Dengan pendekatan inspiratif, pemimpin transformasional menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging) dan menurunkan turnover. - Menciptakan Budaya Organisasi yang Adaptif
Pemimpin mampu menciptakan nilai dan perilaku kerja yang dalam organisasi sehingga karyawan mampu beradaptasi, tidak terjebak dalam zona nyaman, dan memiliki mental continues improvement. Organisasi menjadi lebih fleksibel dan terbuka terhadap perubahan. - Membentuk Tim Kolaboratif dan High-Performance
Semua anggota tim bergerak dengan visi yang sama, bukan sekadar mengejar target. Bekerja sama dengan sinergi—bukan sekadar berbagi tugas, tetapi juga berbagi ide, tanggung jawab, dan dukungan. Sebagai high-performer, karyawan konsisten menghasilkan hasil di atas rata-rata, melampaui target, dengan kualitas kerja yang tinggi. - Membangun Resilience dalam Ketidakpastian
Pemimpin mampu menjaga motivasi meski menghadapi krisis atau disrupsi. Kemampuan individu, tim, atau organisasi untuk tetap tangguh, bangkit, dan beradaptasi meskipun menghadapi situasi yang sulit, tidak terduga, dan penuh perubahan. Bukan hanya bertahan, namun tetap produktif dan berkembang di tengah tantangan.
Lalu, bagaimana mengimplementasikannya?
Penting untuk mengimplementasikan Transformational Leadership terutama pada era 4.0. Enam cara untuk menerapkan Transformational Leadership yang efektif :
- Membangun Visi Digital yang Relevan
Merumuskan arah organisasi yang sesuai perkembangan teknologi. - Menjadi Role Model Digital Mindset
Pemimpin harus menunjukkan keterbukaan terhadap teknologi dan pembelajaran baru. - Mendorong Empowerment dan Inovasi
Memberi ruang untuk mencoba hal baru, berani gagal, dan belajar dari kesalahan. - Mengembangkan Kompetensi Digital & Soft Skills
Fokus pada training dan coaching agar karyawan bisa beradaptasi. - Memberikan Perhatian Individual
Menyesuaikan pendekatan sesuai kebutuhan dan potensi tiap anggota tim. - Menciptakan Budaya Feedback dan Continuous Learning
Feedback yang konstruktif menjadi bahan bakar perkembangan organisasi.
Transformational leadership lebi dari sekadar gaya memimpin, akan tetapi sebuah pendekatan yang relevan untuk menghadapi Revolusi Industri 4.0. Pemimpin transformasional hadir sebagai katalisator : membangun visi yang jelas, menumbuhkan semangat kolaborasi, mendorong inovasi, dan membentuk organisasi yang adaptif serta berdaya saing.
Organisasi yang dipimpin menggunakan transformational leadership ini akan lebih siap menghadapi ketidakpastian, tangguh dalam menghadapi disrupsi, dan mampu menciptakan nilai berkelanjutan bagi karyawan maupun masyarakat luas.
