Pernahkah Anda pernah bertanya mengapa orang-orang tertentu yang dipilih untuk menjadi pemimpin di perusahaan maupun organisasi?
Pertanyaan yang sering muncul :
“Kok dia yang dipilih bukan si A?”
Pernyataan yang muncul :
“Wajar kalau dia yang dipilih…”
Walau setiap orang boleh berpendapat dan bermain dengan persepsinya, tetapi pada kenyataannya siapa yang terpilih menjadi pemimpin bukanlah tanpa sebab, bukan?
Wajar bila ada yang merasa dirinya yang pantas dan terpilih. Tidak sedikit juga yang mendukung. Bila kemudian berpendapat semua itu terjadi sudah digariskan oleh Tuhan, hal itu benar adanya.
Sebagian orang bercita-cita suatu ketika ingin diangkat sebagai leader dan sebagian lagi tidak keinginan untuk itu. Namun, kadang yang terjadi adalah orang yang tidak berambisi itulah yang terpilih. Menarik, bukan?
Pertanyaan simple ini yang bisa Anda jawab. “Kalau Anda punya leader, tipikal leader yang Anda inginkan seperti apa sih?”
Kemudian Anda menjawab :
“Saya ingin punya leader yang kerjanya nggak cuma kasih perintah ini itu setiap hari?”
“Leader itu harus mau mendengarkan timnya.”
“Leader itu harus perhatian dan empati.”
“Jadi leader itu tahu apa yang dirasakan bawahannya.”
“Saya nggak suka leader yang cerewet.”
Jadi, kesimpulannya persyaratan leader yang sesuai dengan kriteria kita itu memang banyak ya. Itu maunya Anda yang menjadi bawahannya.
Hmmm, seandainya Anda dipercaya menjadi leader dengan semua persyaratan itu, sanggupkah?
Itu baru sebagian persyaratan kecil saja. Belum dinilai dari berbagai aspek yang tentunya syarat utama yang harus dipenuhi adalah mempunyai kemampuan leadership yang tinggi, di antaranya mampu memahami situasi masing-masing orang yang dipimpinnya. Tahu kapan kapan memberi arahan, tahu kapan harus memotivasi, kapan harus mendengarkan pendapat dan suara tim, kapan dan ke siapa orang yang tepat untuk diberi pendelegasian tugas.
Leader itu ibarat nakhoda kapal. Semua kru kapal adalah tim yang siap mensupport nakhoda. Setiap kru mempunyai SOP, tugas, dan tanggung jawab masing-masing. Bagaimanapun seorang nakhoda sangat paham masing-masing kemampuan krunya. Akan sangat bahaya apabila nakhoda tidak tahu siapa kru yang dapat diandalkan saat terjadi badai besar. Termasuk pada situasi tidak terduga, misal sang nakhoda sedang sakit dan harus digantikan segera, maka dia tahu siapa saja kru yang mempunyai kapabilitas sama dengannya dab cara berkomunikasi dengan kru lainnya.
